• Review: Ijah Story


    ‘Ijah Story’ adalah komik slice of life yang dibuat oleh Radit sebagai penulis cerita dan Baskoro sebagai penggambar,  tayang secara on line di LINE Webtoon Challenge  sejak tanggal 31 Maret 2019. Komik ini bercerita tentang  murid pindahan bernama Ijah, seorang siswi cantik blasteran dari orang tua Brebes dan Jepang, yang bersekolah di Indonesia. Ehmm, terdengar sangat bertabrakan dan menggelitik bukan? Premis cerita berbau ‘culture shock’ namun dirupakan secara ‘moe’ inilah yang berhasil menjadi senjata andalan komik Ijah Story. Gak percaya? Check this out!

    Tokoh utama komik ‘Ijah Story’, 
    Mbak Ijah yang memiliki mata kayak lagunya Iwan Fals. Mata indah bola mata pingpong.
    (Sumber Gambar: Line Webtoon Challenge. ‘Ijah Story'. 2019)

    Kekuatannya? Poin penting yang sangat menarik untuk disimak dari komik  ‘Ijah Story’ adalah komedi yang tercipta dari bentrok antara dua budaya. Atau mungkin tiga budaya. Yakni Indonesia, Jepang, dan tentu saja Brebes. Berpegang pakem tiga budaya yang sangat kuat ini, komik ‘Ijah story’ memiliki masa depan yang sangat lebar dalam mengembangkan dunianya. Potensi untuk ‘membenturkan’ semua hal tersebut dalam sebuah komik komedi, menjadikan komik ‘Ijah story’ layak ditunggu tiap minggu. 

    Teman-teman ijah yang juga bermata indah bola mata pingpong. 
    Duh, jadi ingin men-smashnya pake raket. hehehe
    (Sumber Gambar: Line Webtoon Challenge. ‘Ijah Story'. 2019)

    Dari segi rupa, Baskoro sebagai penggambar sudah memiliki goresan yang matang dengan karakter gambar yang unik. Beliau sudah memiliki guratan garis tegas dengan  style ala anime shoujo 90-an yang jarang ditemui. Cewek-ceweknya cuantik-cuantik! Secara tata letak juga sudah oke!! Cara bertutur udah asyik!  Joss Gandos!! Bagaimana ceritanya? Radit berhasil menjalin berbagai karakter di komik ini menjadi satu kesatuan yang sangat meriah. Kemunculan dialek daerah di sela-sela obrolan, baik itu dari Brebes maupun Jepang juga inovasi yang  menarik. Kehebohan teman-teman satu kelas, terutama yang berkelamin laki-laki dalam merespon sang tokoh utama, Ijah, kocak banget dan terlalu sayang untuk dilewatkan. Secara keseluruhan komik ini layak untuk diapresiasi.  
    Salah satu panel di mana konten kultur itu dimunculkan. Like it!
    (Sumber Gambar: Line Webtoon Challenge. ‘Ijah Story'. 2019)

    Kelemahannya? Komik bermuatan ‘culture shock’ atau gegar budaya, bagai pedang bermata dua. Di satu sisi ia mempunyai kekuatan yang dahsyat untuk memperpekuat cerita.  Di sisi yang lain, jika sang kreator kurang jeli dalam riset dalam membuat konten dengan beberapa  kultur, maka yang didapatkan adalah sebuah karya yang terlalu ‘ringan’.  Dari poin cerita, Komik  ‘Ijah Story’  dalam lima bab ini masih terjebak di zona ‘terlalu ringan’ ini. Hal tersebut terlihat dari minimnya atribut budaya yang disematkan di tiap karakter. Belum lagi latar belakang baik itu secara tempat (sepertinya lokasi kejadian komik di Jakarta,atau Bandung?) dan waktu yang tidak terlalu jelas. Komik ini di beberapa bagian memiliki alur lambat dengan punchline lelucon yang kurang nendang.  

    Karakter teman-teman sekelas Ijah yang Bodor namun berhasil membuat komik ini sangat menarik untuk dibaca! Ayo munculkan lagi dan buat interaksi yang seru dengan si Ijah. 
    (Sumber Gambar: Line Webtoon Challenge. ‘Ijah Story'. 2019)

    Dari segi rupa, komik  ‘Ijah Story’ bagus, namun biasa saja. Pewarnaan yang datar, balon kata yang gak kompak, dan banyak karakter yang terlalu seragam. Bagus. Namun ya gitu. Sang kreator mempunyai kecenderungan menggambar karakter cewek cantik dengan sangat maksimal namun memperlakukan karakter ‘sampingan’ dengan tampilan seadanya (atau sederhana? wkwkw). Efek suaranya masih kaku, dan Cliffhanger di penghujung bab 3 itu maksudnya apa ya?

    Peluangnya? Komik bernafaskan ‘gegar budaya’ yang terlalu ringan bisa dikuatkan kualitasnya dengan riset dan penulisan naskah. Budaya bukan hanya ‘ngomong bahasa lokal’, namun juga cara bersikap, pola pikir, karakteristik daerah, hingga pernak-pernik cinderamata yang bisa disematkan para tokoh. Silahkan tiga budaya yang muncul di komik ‘Ijah Story’  dibuat list, ditata rapi, lalu di sematkan perlahan satu demi satu di tiap episodenya. Tentu saja kejelasan setting waktu dan tempat makin memperkaya komik ini di kemudian hari. 

    Komik tanpa 'kutipan bijak yang diucapkan tokoh keren berpose sambil ngopi' 
    bagai sayur bayam tanpa garam. Mantap Pak Hardjo. 
    (Sumber Gambar: Line Webtoon Challenge. ‘Ijah Story'. 2019)

    Alur komik yang lambat bisa diakali dengan humor yang intens (atau menambahkan sedikit konflik antar karakter). Dibuat ngakak kocak saja. Jika karakter utama memang dirancang selalu manis dan stay cool, lempar saja jatah ‘humor goblok’ itu ke teman-teman satu kelasnya Ijah.  Komik-komik semacam ini sangat penting. Gegar kebudayaan adalah keniscayaan bagi setiap manusia. Mau merangkul ataupun mengubur itu terserah kamu. Namun yang pasti, Si Ijah cantik sekali, Njirr! Jadi gak sabar nunggu episode selanjutnya! Keep going, Mbak Ijah! Biasa aja gak papa, perlahan tapi pasti, mari buat komik ‘Ijah Story' menjadi luar biasa!


    Mau membaca komik ‘Ijah Story’
    Silahkan main ke tautan ini: Ijah Story

    ***


    Ingin komik/webtoon/ karya kamu direview? 
    Silahkan kirim tautan karya kamu di kolom komentar.
    atau mensien saja pemilik website ini di: 

    Twitter & Instagram@mujixmujix
    Facebook: Mujiyono Sutarno

    Oh iya,  komik 'Proposal Untuk Presiden' sudah tayang dan tampil setiap hari rabu jam 18.00 WIB, baca teasernya di sini:
    Proposal Untuk Presiden: Episode 0

    Sampai jumpa di review karya selanjutnya!

    Mujix
    Pentur, 25 Mei 2019
  • 0 comments:

    Post a Comment

    Kutipan Dari Komiknya Mujix

    “Kebahagiaan itu bukan dicari, tapi diciptakan!” ― Galih Suryapradja, Proposal Untuk Presiden

    Search This Blog

    Powered by Blogger.

    ADDRESS

    Karang,RT/RW: 16/IV, Pentur, Simo, Boyolali, Jawa Tengah, 57377

    EMAIL

    mujix@rocketmail.com